Mobil Nasional GEA. Akankah..?
Dulunya Indonesia pernah memiliki mobil nasional yang bisa dibangggakan, seperti Timor, Bimantara, Cakra dan terakhir Kancil. Beberapa waktu belakangan Indonesia bakal memiliki satu lagi mobil nasional dengan kode nama GEA. Konsep mobil ini bisa disamakan dengan konsep citycar lainnya yang sudah lebih dulu ada di pasaran, seperti Swift, Jazz, Yaris, dll. Intinya mobil ini didesain untuk pemakaian dalam kota yg padat, bermesin kekuatan menengah dan diusahakan dalam shape yang mungil. Dikembangkan oleh PT. INKA Madiun yang lebih dikenal dalam pembangunan gerbong kereta api. Sebelumnya mobil Kancil yang sempat heboh juga masih dalam kontribusi PT. INKA Madiun. Sayang sekali mobil Kancil yang tadinya diproyeksikan sebagai pengganti bajaj ini malah gagal di pasaran.
Fakta tentang mobil GEA:
- mesin 650 cc (Kancil cuma 400 cc) diimpor dari China
- ramah lingkungan karena memakai BBG, walaupun bisa jadi juga memamkai BBM
- GEA diklaim memiliki jarak tempuh 25 – 30 KM per liter
- bandrol harga sekisaran 50 juta
- kandungan nasional sebesar 80% untuk setiap unitnya
- untuk saat ini belum memiliki interior yg memadai seperti AC, CD player, dll (sumber: detik.com)
Yang jadi pertanyaan sekarang adalah apakah nanti mobil GEA ini bisa menjadi sarana transportasi yang sufficient dan bukan hanya mengekspos embel-embel “proudly-presented-by-Indonesia”? Gw bicara soal marketing dan services. Apakah nanti GEA bisa bersaing dengan brand-brand citycar lainnya? Let’s say GEA sudah menang dari segi harga dan mencakup porsi pasar yang signifikan, apakah GEA mampu mempertahankan porsi tersebut? Ataukah nanti malah terlalu cepat puas dan mengabaikan faktor-faktor lain contohnya seperti after-sale service?
Dilihat dari desain dan expected performance-nya sepertinya mobil GEA diperuntukkan bagi masyarakat menengah ke bawah. Sekarang tanyakan pada diri masing-masing, jika kita adalah seorang dengan penghasilan menengah kebawah, mobil seperti apakah yang kita inginkan? Nah, kalo gw ini masuk dalam kategori middle-income tersebut, gw mau mobil gw itu memiliki karakteristik:
- Fungsional. Ini artinya gw mau paling tidak mobil tersebut bisa jalan dengan baik (tentunya…
), memiliki fasilitas standard, seperti AC dan tape-deck. Kapasitas 3-4 orang dan memiliki bagasi yang cukup untuk kebutuhan harian. - Murah. Harga tetap jadi faktor krusial. Tapi ini tidak berarti standar keselamatan diturunkan (ga perlu standar keselamatan BMW ato Volvo). Dan juga harus memiliki garansi yang masuk akal.
- Mobilitas. Di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya kemampuan manuver mobil yg layaknya bajaj sangat penting (menurut gw sih). Dan satu lagi, gampang diparkir.
- Service. Gw mau adanya kemudahan akses kalau mau penambahan aksesoris ataupun sekedar service.
Sebelumnya kita punya mobil Kancil, yang tadinya diproyeksikan untuk menggantikan bajaj. Setelah kemudian baru disadari konsep ini bukan hanya tidak diterima dengan baik oleh pemkot, tapi bahkan juga tidak diterima dengan baik oleh masyarakat. Tanya kenapa? Berikut menurut gw kesalahan-kesalahan yang dilakukan dalam penjualan mobil Kancil:
- Too costly untuk segmen angkutan kota. Pemerintah kota kemungkinan tidak ingin mengucurkan dana banyak untuk proyek pilot yang belum teruji hasilnya. Apalagi buat yang punya bajaj, harga 50juta – 75juta bukan jumlah uang yang akan mereka pergunakan untuk bajaj.
- Negative brand image untuk masyarakat. Ini akan sedikit tricky. Bayangkan sebuah produk yang didesain eksklusif untuk pasar angkutan kota (ex: bajaj), pemerintah bilang buat bajaj, desainer bilang buat bajaj. Nah…sekrg apakah antusiasme masyarakat akan tinggi setelah akhirnya tahu bahwa mereka bisa mempergunakan product yang tadinya buat bajaj? Disamping spesifikasi mesin yang rendah yang membuat masyarakat berpikir 2x.
Sayang gw bukan orang marketing, jadi ga bisa terlalu panjang lebar menjabarkan soal marketing error yang seringkali terjadi dalam pemasaran di Indonesia. Tapi dari pengalaman membeli komputer, kamera, printer atau sekedar membeli baju, ada satu lagi yang PT. INKA beserta product GEA harus belajar.
It’s all about presentation.
Tampilan dan cara menyuguhkan tampilan tersebut adalah cara terbaik untuk menarik minat konsumen. Tidak peduli jika suatu produk itu ada sedikit kekurangan, asalkan ada kesan yg baik dari konsumen, paling tidak konsumen akan tertarik untuk melihat yang ke-2 kalinya. Dan bisa juga menarik investor yg melihat peluang besar dari produk tersebut. Gw ga begitu tahu produk MobNas GEA ini sudah sampai tahap mana, tapi gw tidak melihat satupun website yg memeiliki informasi yang jelas mengenai mobil ini. Semua informasi yang gw dapat sebagian besar dari detik.com atau beberapa blog yg juga me-refer ke detik.com. Bahkan website PT. INKA sendiri sudah tidak bisa diakses karna domain yg telah expired. Too bad.
Aside of all of that..
Perlu diacungi jempol buat inovasi yang coba digagaskan oleh industri nasional. Konsep mobil murah yang hemat energi dan ramah lingkungan? Core-competency yang diusung sudah sangat memadai untuk low-end car, cuma perlu mengikis pandangan skeptis masyarakat yang belum percaya dengan produk dalam negrinya sendiri. Semoga bukan hanya sekedar produk buih, yg melayang sebentar terus hilang pecah.










Shout to Wall RSS Feed